Kamis, 24 Maret 2011

Dear Diary,

Sering merasa bersalah. Itulah yang sering aku rasakan dari awal aku membuat kesalahan sampai sekarang. Sekarangpun aku sering membuat kesalahan.

Sungguh, aku hanyalah seorang remaja yang belum mengerti apa-apa. Seorang remaja yang belum bisa menilai dirinya, melainkan sudah bisa menilai orang sesuka hatinya.

Aku adalah seorang remaja yang sering salah dalam perkataanya. Hanya torehan-torehan tinta yang dapat melukiskan rasa hatiku dan segenap pikiranku ini. Bermodalkan hati dan perasaan.

Kemarin adalah waktu yang telah berlalu. Dan masa 3 tahun, menurutku adalah masa yang sangat singkat. Ingatlah saja, apa yang aku kerjakan selama 3 tahun ? dan mana? Mana hasilnya ?

Aku telah memiliki banyak teman. Aku telah sedikit lagi melangkah keluar dan memeluk dunia. Kini, sudah banyak sekali teman-teman ku. Setiap hari aku bertemu dan bermain bersama mereka sampai detik ini.

Waktu telah berdeham keras, mengingatkanku akan masa-masa indah sekaligus masa-masa pahit dimana tak semua orang menyaksikan nya. Dan aku telah mengalami masa 1 tahun terakhir. Dimana inilah inti dari “Diaries Yesterday”. Aku mencoba, mencoba sesuatu yang amat diseriuskan. Padahal sebelum masa itu, aku tak pernah mau mencoba serius. Aku mencalonkan diri sebagai ketua OSIS.

Aku merasakan seluruh organ dalam ku, seperti hati, paru-paru, jantung dan yang lain nya. Berdebat. Berdebat dengan Qolbu ku dan sekaligus otak ku. Semua itu membuatku amat muak. Yaitu aku ingin hidup dalam ketentraman dan kedamaian dalam sekolah ku yang tercinta. Tapi setelah di pikir-pikir, aku menyelipkan tujuan lain. Yaitu membuktikan pada ayahku kalau aku bisa tanpa beliau. Walaupun beliau telah mengecewakanku, tapi aku tetap ingin beliau bangga padaku.

Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Aku telah berhasil mandapatkan amanah itu. Aku bisa menjadi ketua OSIS. Semenit kemudian aku merasa organ dalam tubuhku berdebat kembali, seolah-olah menyuruhku untuk menyerahkan kembali jabatan itu.

Tapi aku yakin, Allah S.W.T. akan terus bersamaku menuntun jalanku. Sehari setelah itu aku langsung bertemu dengan para menteriku untuk rapat pembentukan program. Oh tuhan, kendala pertama. Mereka dan aku sendiri belum cukup kompak.

Makin kesini, makin banyak kendala yang kami alami. Awalnya aku mengajak beberapa orang untuk berbicara face to face, dan aku mulai mendapat koneksinya. Pada akhirnya, kami mulai bisa kompak. Walaupun sedikit demi sedikit menteriku berkurang. Dengan alasan klasik, ga ada waktu buat kumpulan.



Dear diary,

Suatu hari, aku mendapat masalah dengan guru mata pelajaran. Beliau telah salah paham menuduhku. Beliau menuduhku lupa dan melalaikan tugasnya. Menurutku, antara lupa dan melalaikan itu amat jauh bedanya. Aku akui, aku khilaf karena di kejar-kejar waktu. Tau sendiri kan ? Aku adalah remaja yang masih butuh banyak pencerahan. Khilaf sedikit ga papa kan ? namanya juga manusia. Tapi aku sangat berterimakasih, karena beliau telah mengingatkan aku untuk tidak melalaikan tugas.

Dear diary,

Kini aku bukan ketua osis lagi. Tapi sayang, setiap malam aku selalu dihantui rasa bersalah. Aku memang telah menepati visi dan misiku tapi ada satu yang hampir ketinggalan. Aku belum bisa menuntun teman-temanku dan aku sendiri untuk menjadi siswa teladan. Bahkan sahabatku sendiri atau teman terdekatku sendiri tidak mengerti dengan posisiku. Boro-boro mereka mau bantu. Masalah mereka dengan tugas mereka sebagai siswa teladan pun belum dapat dipenuhi.

Terkadang aku terlalu lama merenung, ya nasib. Nasibku seperti ini. Tapi lagi-lagi aku telah disadarkan. Aku saja yang terlalu naïf, ngapain coba ikut-ikutan kaya gituan segala ? Masih belum ngerti apa-apa juga, udah belagu ikut-ikutan kaya gituan. Ternyata bukan nikmat di hargai oleh orang lain dan mudah dalam mencari bantuan aja, tetapi nikmat sakit hati dan tidak ada yang membantu malah lebih banyak.

But…. Any something. Sesuatu yang membuat aku sadar. Aku masih punya satu, dua , orang yang selalu mendukungku. Aku tak ingin mengecewakannya, hanya karena aku patah semangat. Dan jika kau termasuk, maka terimakasih yang sebesar-besarnya ku haturkan. Maaf, aku tak punya apa-apa atau sesuatu yang berharga untuk di berikan kepadamu. Tapi jangan lupa, jika kau perlu bantuan, aku bisa membantumu. Aku akan membantu dengan senang hati.

Sesuatu yang menyadarkan aku itu mungkin datangnya agak tertatih-tatih karena telat. Tenang ! Aku akan berikan hadiah ini untuk generasi penerusku. Adik-adik, kakak tak ingin kalian merasakan apa yang kemarin kakak rasakan. Mungkin, kemarin adalah yang terakhir. Yesterday will be the last. Kakak ingin kalian fokus dengan apa yang menjadi tugas utama dan visi misi kalian. Jangan takut ketinggalan pelajaran, karena tujuan dari berbagai organisasi sekolah pun adalah untuk belajar. Jangan sungkan-sungkan untuk berkonsultasi dengan guru. Terimalah bekal-bekal yang di berikan oleh beliau kepadamu. Ingatlah akan Allah yang Sama dan Bashar, maka kamu tak akan berani mengingkarinya. Gamushara-yaru kon gen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar